Pada masa kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan pernah terjadi konflik keluarga antara Abu Al-Aswad (pakar ilmu nahwa generasi pertama) dengan istrinya. Mereka ingin bercerai dan saling memperebutkan hak asuh anaknya. Karena kedua-duanya tidak mau mengalah maka masalahnya diadukan ke hadapan khalifah. Ketika istrinya sedang menggendong anaknya, Abu Al-Aswad melihatnya. Ia segera bangkit dan datang mendekat untuk merebut anak itu dari ibunya. Lalu perempuan itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, ini anakku, buah hatiku, baginya perutku dulu adalah kandungannya, baginya asuhanku adalah halaman, baginya payudaraku adalah kebutuhan gizi, aku mengamati bilamana ia bangun, aku menjaganya bilamana ia tidur, dan terus demikian selama beberapa tahun. Setelah disapih dan tumbuh dengan baik, kini ayahnya hendak mengambilnya dari tanganku dan menjauhkan dariku. Demi Allah berbuatlah adil terhadapku".
Lalu Muawiyah bertanya kepada Abu Al-Aswad, "Engkau telah mendengar kata-katanya. Apa jawabanmu?"
Abu Al-Aswad menjawab, "Memang benar, akan tetapi aku yang mengandungnya sebelum ia hamil, aku yang melahirkan sebelum ia melahirkannya, dan aku ingin mengajarinya ilmu dan menanamkan kepadanya hikmah".
Muawiyah akhirnya berkata kepada perempuan itu. "Apa katamu tentang jawaban kata-katanya itu, wahai perempuan?"
Perempuan itu menjawab, "Apa yang dikatakannya itu benar, akan tetapi ia mengandungnya lemah, sedang aku mengandungnya berat, ia melahirkannya dengan syahwat, tetapi aku melahirkannya dengan menahan sakit!"
Muawiyah kagum atas kefasihan kata-kata perempuan itu dan berkata kepada Al-Aswad, "Berikan anak itu kepadanya. Dia lebih berhak atas anak itu daripada engkau".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar